...

1.5M ratings
277k ratings

See, that’s what the app is perfect for.

Sounds perfect Wahhhh, I don’t wanna
surat-pendek
tatjtiyah

“Untuk Kamu, Perempuan”

Kamu perempuan, coba untuk memahami ini, jika dia melepaskan diri dari mu dengan berdalil bahwa “ini jalan yang terbaik” atau mungkin “ada wanita lain”, cukup tertawai semua kekonyolannya

Yang terbaik yang ia pinta hanyalah alibi yang mereka rasa mungkin itu adalah cara terbaik melepaskan mu tanpa terlalu banyak menyakiti perasaan mu, tapi pernahkah mereka ketahui? Alasan itu adalah hal yang paling menyakitkan, sungguh? “terbaik untuk kita?” bukankah dirimu terluka?, maka di mana sisi yang baik yang dia ucap. Itulah hal yang paling tak pernah ku mengerti mengenai jalan pikiran laki-laki

Lantas, untuk dia yang pergi karena mungkin ada wanita lain, tak usah kau caci maki wanita itu. Sebab dia sudah pantas mendapatkan lelaki yang tak pernah mau berkomitmen, tak pernah mampu menjaga hati. Perempuan seperti itu pantas, bahkan sangat pantas. Jadi kamu, tak perlu memakinya, tertawai saja kebodohan keduanya. Setidaknya mereka cocok satu sama lain. Dan kamu, sudah sanagt hebat karena berani melepaskan

Perempuan, tak usah terlalu memikirkan mereka yang datang lalu pergi setelah menghancurkan hati mu, kamu juga harus tau. Di dunia ini, entah di mana itu setidaknya akan ada seorang laki-laki yang akan hancur hatinya hanya karena kamu terluka. Cukup simpan cinta mu hanya untuk Dia yang benar-benar layak mendapatkannya

Tatjtiyah

Lombok, 19 mei 2018

18:38 am

taufikaulia
taufikaulia

Setidaknya mulai hari ini pikirkanlah dengan serius masa depan seperti apa yang kamu janjikan untuk dirimu sendiri. Jika menjanjikan masa depan untuk diri sendiri saja tak becus, lantas bagaimana kita menjanjikan masa depan kepada orang tua, keluarga, bangsa, negara, dan agama? Kenapa janji? Karena menepatinya berarti berusaha sebaik-baiknya dan bermalas-malasan adalah pengkhianatan.

— Taufik Aulia

girlbehindpoem

Desember

girlbehindpoem

Aku berjumpa lagi dengan rindu.
Awan menggariskan nama biru.
Diatas langit yang kelabu.
Tertulis pesan sendu.

Hujan perlahan turun.
Rintik mengelabui pandangan.
Sepintas, aku merasakanmu di nadiku.
Sepintas, terlintas beberapa kenangan.

Kamu lagi kamu lagi.
Kenapa tak mau pergi?
Apa tak bosan singgah lagi?

Tiba-tiba kembali aku pada masa itu.
Dimana senyummu masih menjadi hal favoritku.
Dimana candamu adalah hal yang paling aku tunggu disetiap akhir celotehmu.

Tiba-tiba airmata ini menetes.
Berlomba dengan gerimis yang semakin deras.
Beradu dengan detak yang semakin keras.

Desember tahun lalu.
Saat degupmu adalah satu-satunya yang menenangkan ku kala mendung.
Saat rangkulmu adalah satu-satunya peluk yang paling hangat.

Desember tahun ini, aku hanya bisa berdoa. Semoga hati ini cepat pulih,
Dari patahnya terik pada mendung.

Aku hanya bisa berdoa.
Walau tak lagi bersama, aku harap kita tetap bisa melihat senja yang sama.

taufikaulia
taufikaulia

Orang Tua

image

Ada masa dimana orang tuamu semakin tua dan kamu ingin membelikan mereka apa saja. Lalu ada masa dimana kamu seakan sudah punya semuanya, tapi kamu tak bisa lagi membelikan keduanya apa-apa.

Di samping kebahagiaan kita karena bisa memiliki ini-itu dan traveling kesana-kemari, orang tua adalah kebahagiaan yang sebenarnya. Kamu pikir, kenapa rumah selalu menjadi tempat kembali paling nyaman kalau bukan karena orang tua? Tak peduli rumahmu semegah istana atau hanya rumah kontrak yang sempit.

Hari ini di wajah mereka ada kerut dan keriput yang tahun lalu belum ada. Hari ini di kepala mereka ada rambut putih yang tahun lalu belum seberapa. Hari ini di tubuh mereka ada kelemahan dan penyakit yang tahun lalu belum terasa.

Barangkali kita punya standar kebahagiaan yang berbeda. Tapi di antara itu semua, orang tua adalah ukuran kebahagiaan yang persis sama di antara kita. Di usia yang genting ini, tepat sebelum atau setelah melewati seperempat abad, jangan biarkan ambisi pribadi menutup matamu sehingga tak mampu melihat pintu surga pada keduanya.

Tentu, kapasitasmu berbatas. Tapi niat dan ketulusanmu berbakti pada keduanya, inilah yang tak terbatas. Dan semua niat baik akan Allah bukakan dan mudahkan jalannya.

Jangan malas untuk sekadar menanyakan kesehatan lewat telepon. Jangan berkeras untuk lama tak pulang. Jangan perhitungan membelikan suplemen kesehatan atau makanan yang mereka suka.

Umur memang tak ada yang tau. Dan semua kembali padamu. Jika sisa waktu yang mereka miliki di dunia ini tidak lebih lama dari sisa waktumu, bagaimana kamu akan hargai setiap waktu mereka yang tersisa itu?

— Taufik Aulia